My IVF Diary (part 12-end) Kena Covid Lalu Melahirkan

1 Februari 2021

Batuk, pusing, demam tiba-tiba datang. Heru mengecek suhuku, 37.5. Langsung aku kirim whatsapp ke dokter Wisnu. Aku diresepkan obat-obatan ringan, mengingat kandungan yang sudah masuk trimester akhir. Aku juga lanjut mengajar online di rumah karena badan rasanya masih bisa diajak kerja sama, meski sebetulnya nggreges sih walau masih bisa dilawan. Bismillah, semoga cuma sakit ringan aja.

Selfie setelah ngajar online (4 Feb).

9-10 Februari 2021

Batuk-batuk sejak 1 Februari itu belum reda juga. Bahkan sering bikin sakit di perut bawah. Lalu pagi ini, tiba-tiba saat pipis keluar gumpalan darah. Aku takut, lalu buru-buru menghubungi dokter. Ia menyarankan untuk ke RS segera. Usia bayi baru 35 minggu, masih belum waktunya keluar dulu. Dokter bilang mesti rekam jantung bayi dan perkuat paru-paru.

Sampai di IGD Permata Ibu, Heru mengurus segalanya. Termasuk permintaan swab antigen karena aku mengalami gejala covid. Aku cuma bisa berbaring di bed, berdoa terus semoga si bayi aman. Ada perawat datang yang kemudian melakukan pemeriksaan dalam. Kudengar dari jauh, ternyata sudah pembukaan satu. Duh, aku takut dan merasa belum siap kalau terpaksa harus melahirkan saat itu. Aku merasa si bayi belum cukup bulan juga.

Hasil swab antigen muncul, ternyata aku positif. Langsung dokter mengarahkan langsung tes swab PCR. Keesokan harinya, hasil PCR keluar dan… positif.

Ohh, baru kusadari, ternyata sakit yang kurasa sejak 1 Februari itu adalah gejala covid. Ya ampun, aku masih kerja mengajar sambil batuk-batuk, duduk tak nyaman karena perut besar dan sakit, rupanya aku sudah terinfeksi virus covid-19. Heru juga langsung tes dan alhamdulillah hasilnya negatif. Oh, aku sedih dan takut, terutama mikir keamanan si bayi. πŸ™

Untungnya hanya batuk yang terasa dominan, tak ada sesak dll. Kondisi bayi ternyata aman. Maka kemudian aku diperbolehkan isolasi mandiri di rumah. Aku dibekali sejumlah obat-obatan dan penguat. Semoga si bayi bisa bertahan dulu di dalam kandungan sampai target lahiran akhir bulan Februari, sesuai yang direncanakan.

14 Februari 2021

Magrib aku merasa mulas-mulas. Kupikir mau pup, tapi flek darah keluar lagi. Juga ada cairan bening yang kupikir air pipis. Oh, ternyata itu ketuban yang merembes.

Untungnya aku sudah sempat beres-beres baju dan keperluan bayi dan ditaruh dalam satu koper. Heru kemudian memutuskan kami ke UGD segera. Perasaan kami, inilah waktunya. Terserah Tuhan aja.

Yang kurasa, segalanya berlangsung cepat. Aku diperiksa macam-macam dan diputuskan akan menjalani operasi melahirkan caesar. Heru melepasku di pintu ruang operasi sambil bilang “Yang kuat, ya.” Kubalas “Doakan, ya.”

Di meja operasi, sebelum mulai, aku terbatuk lagi. Dari balik face shield dan masker yang kupakai, bisa kudengar dokter Wisnu bilang, “Ayo, Bu, jangan batuk…”. Yatapi gimana, huhu. Lalu setengah sadar aku bisa merasakan perut diutak-atik, dokter sibuk bekerja, dan kemudian terdengar suara tangis yang begitu keras. “Laki-laki, ya, Bu. Selamat.” Hamdallah. Lalu aku merasakan pusing hebat. Kucoba bicara ke dokter anestesi dan setelah itu aku tak sadar diri.

Usai terbangun dan muntah, aku dipindahkan langsung ke ruang isolasi covid. Si bayi juga masuk ruang isolasi bayi, terpisah dari bayi-bayi lain. Heru juga tak bisa menemui aku dan si bayi. Sejadi-jadinya tangisku pecah. Kami bertiga terpaksa mesti berpisah.

Keesokan hari baru aku mulai bisa pegang hape, dan aku sambil menangis minta dikirimkan foto atau video si bayi.

Menangis keras terus, belum bisa bertemu bapak ibu.

Oh, ini dia si anak lelaki yang kami tunggu tujuh tahun, yang lahir di malam hari 14 Februari, yang semoga memberi dan selalu diberi kasih sayang oleh banyak orang. Si bayi yang kami beri nama ARUTALA MAINAKI, dari bahasa Sanskerta dan Jawa, sang rembulan yang membuat senang banyak orang.

ARU, usia hari kesatu.πŸ’™

Kami diminta menunggu kembali. Aku harus dirawat di ruang isolasi sampai tes swab PCR berikutnya negatif. Aru, si bayi kecil itu, harus swab test juga sampai dua kali. Ahamdulillah negatif. Heru kemudian berniat membawa Aru pulang ke rumah. Rumah sakit mensyaratkan Heru menyediakan hasil swab test ulang dirinya. Oh, Tuhan menguji lagi. Heru yang terus bolak balik selama aku dirawat beberapa hari di RS, akhirnya positif covid. Sedih dan bingung dia, jadi sampai kapan kami bertiga bisa bertemu?

Akhirnya Heru memanggil bapak ibuku, mereka ditest swab juga untuk bisa merawat dan membawa Aru pulang. Untunglah keduanya negatif. Jadi, Aru pulang bersama kakek neneknya.

Aku baru kemudian hari menyusul pulang, tapi tetap menjaga jarak dari Aru, tetap belum bisa pegang cium Aru. Aku lanjut isoman dan memompa ASI untuk diberikan ke Aru di kamar sebelah. Sementara Heru, dia isolasi mandiri di hotel dekat rumah.

28 Februari 2021

Akhirnya Heru membawa hasil swab test barunya, negatif! Waktunya pulang ke rumah!

Haru betul lihat Aru akhirnya digendong papanya. Semoga setelah ini Tuhan berikan segala kesehatan dan kemudahan untuk kita semua, juga untuk kamu hai pembaca.

Selfie pertama kami! Bahagia sekali! <3

My IVF Diary (part 11) – Masa Kehamilan yang Menantang + Mitoni Virtual

Aku pernah dapat beberapa cerita ada ibu hamil kebo, kuat gitu, masih bisa kerja keras, bisa olahraga hebat, pokoknya kuat menjalani aktivitas berat. Pernah juga (sering malah) dengar cerita ibu hamil yang kepayahan, sering sakit, lemas hingga harus bed rest beberapa bulan. Semua ada. Karena kehamilan ya kembali lagi ke kondisi tubuh ibu. Beda-beda. Kita nggak bisa samakan kondisi tiap orang. Jadi nggak boleh ya, komen macam “Ih kok kamu ga kuat sih? Si ibu itu aja masih bisa kerja. Ibu itu bisa beberes rumah biasa. Jangan manja dong!” Tolong yaa, harap ingat agar lebih jaga bicara. πŸ™πŸ˜Š

Nah, aku gimana? Bulan trimester pertama kurasa aku cukup kuat. Ya, mual tipis, nggak sampai muntah, makan masih enak. Perasaan bawaannya hepi, enak. Jadinya badan juga enak kali ya. Paling pusing-pusing ya tiap pagi, tapi masih bisa ditahan, masih bisa beraktivitas. Untung kerja bisa dari rumah, work from home karena memang masih pandemi covid juga.

23 November 2020

Sudah masuk trimester dua. Kaki mulai bengkak. Makan malah mulai rewel. Aku sempat diare. Waktu kontrol bulanan sudah dikonsultasikan ke dokter dan diberi obat yang aman. Nah, sudah enakan tuh. Bisa aktivitas normal lagi.

Tengah malam tanggal 22 Nov aku nggak enak badan. Lalu tiba-tiba demam. Cek suhu pakai termometer ternyata sampai 39 derajat. Coba tangkal pakai panadol biru yang dosisnya ringan, suhu sempat turun, tapi kembali naik. Susah tidur. Begitu terus sampai subuh. Muncul ruam merah di payudara dan perut. Panas rasanya. Karena khawatir, Heru akhirnya memutuskan kami ke rumah sakit aja. Jadilah Senin subuh kami cuss ke IGD.

Di IGD langsung ditanya-tanya. Cek suhu ternyata sampai 39.6. 😭 Aku takut banget. Akhirnya diberi paracetamol infus dan cek darah untuk lihat kemungkinan adanya penyakit lain. Juga tes urine karena dicurigai ada infeksi kemih. Benar ternyata, Infeksi Saluran Kemih (ISK) karena bakteri yang kemungkinan besar karena diare sebelumnya. Cuma lumayan parah efeknya sampai demam tinggi. Juga dikhawatirkan kenapa-kenapa dengan janin yang usianya 26 minggu ini, maka akhirnya diputuskan aku harus rawat inap.

Sehari dirawat masih begitu. Demam tinggi, lalu reda. Kemudian menggigil. Lalu demam lagi. Imun kayak lagi perang sama penyakitnya. Infus jalan terus. Cek darah dan swab test covid juga. Aku paksakan makan walau pahit, demi si bayi. Minum air putih harus rajin karena bayinya harus aman dalam cairan plasenta. Begitu terus sampai hari ketiga udah enakan dan kangen pulang, kangen si Kuci. 😸

Sudah lumayan enak, baru bisa minta foto πŸ˜ΊπŸ˜…

Hari ketiga akhirnya keluar, hasil cek darah aman. Hasil swab test belum keluar, tapi aku diperbolehkan pulang dan lanjut rawat mandiri di rumah. Sudah dicek juga sama dokter Wisnu dan kondisi bayi alhamdulillah aman. God bless.

28 November 2020

Eh, nasib si Heru. Aku sudah pulang rawat inap, gantian dia yang sakit, demam tinggi dan bintik-bintik kulitnya. Duh, kecapean kayaknya kemarin nungguin aku di RS. Akhirnya Heru cek darah juga dan rapid test. Untung hasilnya semua negatif, aman. Jadi tinggal menurunkan demam dan istirahat mandiri di rumah.

Duh, memang ya, urus kehamilan dan segala sakit-sakit bawaannya memang butuh kerjasama berdua, istri dan suami. Juga butuh dukungan orang sekitar agar semua proses kehamilan yang menantang itu bisa dilalui dengan hati lega.

16 Desember 2020

Doa-doa harus terus dipanjatkan. Makanya aku dan Heru masih ingin lakukan pengajian mitoni atau nujuh bulan, tapi tanpa undang tetangga. Maklum kan masih pandemi juga. Akhirnya diputuskan pengajian diadakan di rumah keluarga Heru di Jepara. Kami tetap di rumah, ditemani bapak ibu dan kakak saja yang datang ke rumah.

Acaranya sederhana sekali. Berdoa dan mengaji pakai video call. Lalu dilanjut siraman.

Adegan siraman ini yang menarik. Aku duduk memangku sebutir telur ayam kampung, lalu disiram suami pakai air kembang tujuh rupa. Lalu, aku harus berdiri. Nah, telur akan jatuh kan. Lalu dilihat telurnya pecah, retak, atau utuh. Hasilnya, telurnya retak. Kata keluarga di Jepara, itu tanda bayinya laki-laki. :))

Setelah itu, di Jepara sana lanjut membagikan makanan ke tetangga, juga para janda dan anak yatim. Makanannya rupa-rupa seperti ini, yang semuanya ada filosofinya. InsyaAllah semua demi kebaikan, demi keselamatan.

Katanya ini semua ada maknanya. Bubur merah putih, rujak, dawet, apem procot agar lahirannya makcrot mudah, lepet yang harus dibuka talinya, ikan bandeng utuh, dan aneka rupa jajanan pasar.
Nasi punar (punari)
Daun sirih diikat benang jarum dan ada bola bedak putih di dalamnya. Sirih agar si bayi berhati bersih, bedak agar berhati adem, jarum agar tajam berpikir, diikat benang lambang kekuatan.

My IVF Diary (part 10) – TWW Lagi dan Hasilnya!

27 Juni 2020

Sebetulnya enak, selama masa Two Weeks Wait (TWW) yang kedua ini, jatuh pas di bulan Juni, masa liburan sekolah. Aku benar-benar bisa bed rest. Kalau pun bangun, ya cuma muter-muter di rumah aja karena toh juga masih pandemi covid. Pokoknya hari-hariku diisi makan, minum obat, tidur, santai.

Tapi dua hari ini aku mules. Pinggang belakang pegal. Rasanya kayak PMS. Mau dibawa berpikir positif juga susah. Bukan apa-apa, tubuhnya kenapa kasih sinyal seolah mau mens begini. Kalau menurut kalendar sih, memang ini sudah tanggal harusnya mens. Mana ada sisa crinone krem kecoklatan di celana, aku jadi takut, lalu segera kabari dokter. Dr Wisnu meresepkan duvadilan dan minta aku benar-benar bed rest.

Tadinya aku mau sok kuat, nggak mau bilang ke Heru. Tapi akhirnya aku tetap kasih tahu dia. Supaya kami berdua siap jika terjadi sesuatu yang nggak kami mau.

30 Juni 2020

Gejala kayak PMS itu rupanya hanya terjadi dua hari aja. Setelahnya aku merasa lebih enak. Aku mencoba nggak mau pikirin. Yang penting adalah hari ini: tes darah Beta HCG.

Begitu sampai Morula, Heru sepakat mau aku pakai kursi roda. Entah, agak takut kenapa-kenapa aja. Lagian aku kepikiran lucu, aku belum pernah coba rasanya naik kursi roda. Hehe. Eeh, ternyata malah ada kejadian ngeri-ngeri kocak. Jadi kami masuk lift nomor 4. Isinya cuma aku dan Heru. Sampai di lantai 7, lift itu berhenti. Pintunya nggak mau terbuka. Aku seketika takut karena langsung kepikiran film-film action Hollywood gitu. Kejebak di lift! Heru lalu pencet tombol pertolongan. Lalu komunikasi tektok deh dengan operator yang katanya memantau kondisi kami lewat cctv. Duh, rasanya lumayan lama juga. Ternyata 5 menitan. Pintu kemudian dibuka satpam. Kami pun keluar. Eh, pas banget ada dr. Wisnu di depan pintu, mau turun tapi nggak jadi karena lihat aku didorong pakai kursi roda. Dia ngomong cepat, “Ini kenapa? Ini kenapa?” Nunjuk aku dan matanya nanya ke Heru. “Liftnya, Dok. Kejebak.” “Tapi ini kenapa?” si dokter masih mengejar. Rupanya dia khawatir melihat aku pakai kursi roda, dikira kenapa-kenapa. Kujawab, “Enggak dok, takut capek aja.” “Tapi kenapa pakai kursi roda? Ya udah, masuk aja. Oh, jadwal cek darah ya hari ini?” Akhirnya malah dr. Wisnu bukakan pintu Morula buat kami dan kami pun langsung ke arah lab. Hehe, ajaib banget pengalaman hari ini.

Ambil darah kali ini agak sakit. Mungkin karena sudah lama nggak diambil darah. Agak geliyengan juga karena kurang minum. Dua tabung diambil, lalu sudah. Heru urus biaya hari itu, habis Rp.624.000. Lalu aku kembali naik kursi roda dan berharap ada kabar baik sore nanti.

Mejeng di depan pintu Morula :D
Mejeng di depan pintu Morula. πŸ˜€

1 Juli 2020

Kemarin malam hasil cek darah sudah keluar, katanya positif! Anehnya aku dan Heru cuma pelukan, senang, tapi nggak kegirangan. Heru sih yang paling sering ingatkan aku, ini baru awal, masih panjang masa merawatnya. Jadi kamu harus hati-hati, jangan terlalu terbawa senang.

Semalam dr. Wisnu juga meminta hari ini kontrol. Aku di-USG transvaginal lagi untuk lihat kondisi janin bagaimana. Dan ternyata memang belum terlihat jelas banget ada sesuatu. Aku diminta banyak istirahat dulu dan diberi obat penguat kandungan, juga obat-obatan dan vitamin Folamil Gold. Ada juga obat suntik yang harus digunakan per dua hari sekali, juga masih terus pakai Crinone.

Dokter mulai ingatkan aku untuk pantang makanan mentah (sayur mentah, sushi, rare steak, kerang, dll). Nggak boleh banget makan mi instan, juga mi kering (bihun, kwetiaw, dll). Hindari makanan yang bisa bikin gas perut biar nggak mual (nanas, anggur, nangka, kol, labu, terong, dll). Pokoknya selalu makan sehat, perbanyak ikan. Ohya, dilarang juga berhubungan badan selama 5 bulan ke depan. Si dokter lalu becandain Heru, sabar-sabar aja ya puasa. :))

Heru urus biaya hari itu, untuk konsul-suntik-obat-obatan habis Rp 2,2 juta. Sementara dokter ingatkan aku untuk kembali kontrol minggu depan. Hap hap! Harus semangat!

8 Juli 2020

Sejak kunjungan terakhir itu, aku harus suntik obat penguat di pantat, dua hari sekali selama enam kali. Karena Heru nggak bisa, maka kami minta bantuan bidan dari klinik dekat rumah. Kalau mau pakai jasa suster dari Morula juga bisa, tapi harganya lebih mahal. Rasanya abis suntik itu pegal, karena cairan obatnya itu kental. Disuntiknya juga di otot pantat kan ya, jadi efeknya gitu, pegal. Tidur harus miring biar nyaman.

Hari ini kembali lagi ke Morula untuk cek perkembangan janin. USG masih lewat vaginal. Kata dokter Wisnu, hari ini kita lihat apakah kantung plasenta sudah terbentuk atau belum. Yang terlihat di layar itu kayak ada bulatan kecil dan bulatan gelap di sekitarnya. Bagus katanya. Meski yang dominan terlihat justru multiple myoma yang makin membesar. Kata dokter, wajar si myoma jadi ikut tumbuh seiring janin berkembang, tapi nggak usah dikhawatirkan selama tidak mengganggu.

Menu kali ini aku diberikan suntik ovidrel pen lagi, crinone, obat-obatan juga untuk tujuh hari minum. Heru bayar Rp. 2.700.000. Wah, betulan masih panjang juga perjalanan biaya ke depan. Bismillah, semoga dimudahkan. πŸ™‚

16 Juli 2020

Week 6. Agenda kontrol hari ini adalah cek perkembangan jantung. USG masih transvaginal. Waktu layar terlihat di depan, aku bisa lihat bulatan itu berkedut-kedut. Kata dokter, itu jantungnya sudah berkembang. Ohh, haru banget rasanya. <3

Dokter Wisnu berkali-kali tanya apakah aku ada keluhan, flek, kram, atau apa, tapi kujawab tidak. Alhamdulillah baik-baik aja. Pusing-pusing suka terasa, katanya itu normal, efek samping duphaston. Mual-mual belum terasa, katanya normal juga, karena nanti mual muncul di week 8-12. Jadi sering pipis, katanya bagus, memang tidak boleh ditahan dan harus minum air minimal 2 liter sehari.

Kali ini suntik mulai dilepas. Ramuan obatnya yang diganti. Total Heru selesaikan Rp 1.900.000 di kasir. Ada juga tambahan resep vitamin Cormega, kayak minyak ikan gitu yang diminum seminggu dua kali aja. Heru tebus di luar, harganya Rp 370.000.

Sebelum pulang, dokter Wisnu ajak kami foto bersama, buat diposting di instagram dia. Pihak Morula juga minta izin untuk bisa memposting foto kami di akun sosmed mereka. Okelah. Jadi kurasa ini sudah waktunya aku berkabar ke orang lain juga. Yes, I am pregnant! Doakan aku sehat selalu dan lancar sampai waktunya nanti yaa. πŸ™‚

Diminta pake gaya jari itu: salam dua garis! Padahal mah gak pernah pake test pack, gak pernah tahu dua garis kayak apa. :))

My IVF Diary (part 9) – FET di Masa Corona

28 Mei 2020

Setelah sebelumnya ditunda karena corona baru merebak, pas bulan puasa lalu tiba-tiba dokter Wisnu ngechat duluan. Oh, rupanya ia bilang aku bisa mulai lagi promil ini bulan Juni. Ya, masuk new normal, maka kita juga move on dengan tetap ikut prosedur kesehatan yang ada. Jadi ya, aku okein. Bismillah. πŸ™‚

Untuk IVF kedua ini, dokter mau coba metode normal cycle dengan tambahan endometrial scratch. Jadi prosedurnya kayak diperiksa dalam, dicoel sedikit rahimnya. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan embrio nempel di uterus setelah FET.

Meski udah dikasih tau akan “cuma dicoel dikit” ya tetep aja aku degdegan. Pas tindakan, dokter Wisnu cerita dia beli alat coelnya itu di Inggris lewat ebay. Mungkin biar aku nggak nervous ya jadi dia cerita gitu. Hehe. Tapi yaa rasa mules tetap terasa, kayak pas mens. Malam itu berakhir aku nahan mules dan berusaha tidur senyamannya.

13 Juni 2020

Ini keempat kalinya aku bolak-balik ke RS buat USG. Jadi dengan teknik normal cycle ini, dokter mengikuti perkembangan ovum dengan siklus haid normal. Dilihat kapan membesar, kapan matang, dan kapan pecahnya. Aku diminta minum femaplex dan lanturol, juga lakukan ovu test sendiri di rumah.

Kalau baca di internet, femaplex itu obat terapi kanker, tapi bisa dipakai buat terapi fertilitas. Efek sampingnya terasa sih di aku: pusing, lemas lesu, dan berat badan naik (hehe, ga tau juga sih, ini karena lebaran ngemil kastangel juga kali). Kalau lanturol itu vitamin E 400iu, dan memang dipakai untuk terapi kardiovaskuler dan rasa lesu. Katanya sih kontra indikasinya hipersensitif. Entah kebetulan atau engga, aku sempat alergi saat konsumsi ini. Muncul ruam-ruam merah di kulit lumayan luas: paha, punggung, tangan, kaki. Panas dan gatal. Akhirnya diresepkan ceterizine 10 mg dan hilang itu alergi.

Ohya, aku juga diresepkan Viagra. Iya, pil biru yang biasanya dikonsumsi pria itu. Dokter Wisnu becandain, bilang ke Heru, “Maaf ya pak kalo nanti si ibu jadi centil.” Hahaha. Tapi begitu aku konsumsi saat malam, rasanya jantung berdebar-debar dan pusing hebat. Boro-boro jadi enak. Hahha.

Viagra 100 mg. Sebutirnya 200 ribuan. Syuper mantap.

Ohya, karena masih masa pandemi Covid-19, maka semua tindakan kehamilan ditambahkan dengan prosedur PCR test. Jadi pasien harus punya keterangan negatif covid, baru boleh jalani tindakan IVF berikutnya.

Jadilah setelah USG, malam itu langsung ke IGD untuk minta swab test. Heru bilang dia bayar 1,8 juta. Lalu kemudian, aku dibawa ke ruang tindakan. Nunggu beberapa saat, bengong karena beneran sendirian di ruangan. Lalu datang petugas berpakaian APD lengkap. Aku diminta berbaring dan rileks. Dia colok alat testnya itu lewat lubang hidung, dan… sudah. Sebentar banget. Rasanya nggak nyaman, geli kayak mau bersin gitu. Untung ya nggak sakit. Meski katanya ada beberapa orang yang merasakan sakit banget, tergantung reseptor masing-masing orang katanya.

Happy me karena seneng gak sakit pas swab test :)) Sticker biru di lengan itu tanda lolos pengecekan suhu setiap kali datang ke RS.

Malam itu aku dan Heru pulang sambil motoran. Di jalanan, wow banget, rameee orang nongkrong. Malam minggu new normal kayak gitu ya? Ramean nongkrong di cafe dan warung tenda gak pake masker? Aneh banget jadinya, barusan aku bayar mahal demi punya surat bebas covid, sementara orang-orang selow banget gak proteksi diri. Wallahualam. πŸ™

19 Juni 2020

It’s the FET day. Pagi jam 8.30 aku dan Heru sudah sampai di Morula Tangerang. Kami dijadwalkan FET jam 11. Prosedurnya sama kayak ET pertama dulu. Dari rumah dilarang pakai parfum di badan. Boleh sarapan, nggak perlu puasa. Lalu minum obat dan minum air putih banyak sampai kayak mau pipis.

Bedanya dengan ET dulu, sekarang embryo yang akan dipakai adalah frozen embryo (FE). Jadi aku dan Heru kembali tanda tangan di kertas perjanjian. Lalu tunggu pencairan FE dan dapat penjelasan tentang kondisi embryo terbaru. Intinya, alhamdulillah kondisinya masih bagus dan siap transfer. Katanya, saat dicairkan embryo juga berpotensi gagal survive. Ya Allah, bener-bener ya perjalanan si embryo tuh berat banget.

Lalu, bedanya lagi adalah, kali ini suami nggak bisa temani ke dalam ruang operasi. Jadi begitu jam tindakan, Heru cuma bisa nunggu di ruang tunggu aja. Lagi-lagi, prosedur baru karena corona.

Di operating theater sudah ada dua suster. Mereka minta aku melapisi baju yang kupakai dengan baju pasien dan tentu saja pake sendal crocs. Untung inget pakai hoodie, jadi lumayan anget di ruangan yang super dingin itu. Lalu, masuk dua dokter, dokter Wisnu dan dokter Sita. Susternya becandain aku, katanya aku ini VIP. Dihandle dua dokter, dan ternyata hari itu aku satu-satunya pasien. Pantesan dari tadi sepi banget. :))

Waktu tindakan dimulai, mereka serius tapi santai gitu. Mereka berempat ngobrol gosip-gosip lucu. Jadinya aku mau ketawa juga padahal perut udah keras banget ditekan alat USG dan harus tahan nggak boleh byar pipis. Lalu, embryo loading, dan… selesai. Kata dokter kondisinya bagus. Prosesnya smooth. Alhamdulillah.

Nah, ini bedanya lagi dengan ET sebelumnya. Setelah selesai tindakan, pasien kan harus diam berbaring 15 menit. Nah, kali ini kaki boleh diturunkan dan bisa lurus, nggak ngangkang kayak ayam potong gitu. Dan abis itu diselimutin, jadinya enak lumayan hangat melawan si AC yang nyentrong. Lalu, kali ini aku ditawari mau pipis atau enggak, masih di meja operasi itu. Aku bilang mau. Maka suster langsung siapin pispot, trus disuruh pipis di saat dokter Wisnu masih di sebelah urus rekaman rahim. Aduh, hahaha, aneh banget rasanya.

Setelah 15 menit, baru deh pindah ke ruang perawatan. Dikasih susu dan makanan, dan bisa pegang hape lagi. Heru lagi urus obat dan pembayaran. Kutanya habis berapa, katanya 11 juta. Tindakan FET 8 juta dan obat-obatan 3 juta (per Juni 2020).

Nggak lama, suster-suster sudah beberes bersiap pulang. Wah, emang bener-bener aku pasien tunggal hari itu. Sekali lagi, karena corona, banyak penyesuaian yang harus dilakukan sehingga pertemuan juga diminimalkan. Duh, semogaaa hasil FET aku ini sehat dan berhasil ya. Nunggu banget kabar baik 14 hari kemudian. Wish me luck!

My IVF Diary (part 8) – Kuret dan Corona

4 Januari 2020

Sebetulnya duniaku masih suram, pikiran tidak jelas, takut ke RS lagi, tapi dokter menyarankan untuk periksa kondisi usai gagal IVF Desember lalu. Datanglah aku dan Heru ke RS Permata Ibu karena dr. Wisnu sedang praktik di sana. Aku menjalani pemeriksaan dalam lewat vagina, lupa namanya apa. Yang kuingat cuma rasanya mulas, tidak nyaman. Dokter bilang, ditemukan banyak polip di rahim, hingga kemudian dijatuhkan diagnosis hyperplasia endometrium. Dokter langsung sarankan untuk kuret malam itu juga. Di depan dokter aku angguk-angguk nurut, tapi begitu keluar ruang periksa, duduk di bangku lorong, aku nangis akhirnya. Entah, tiba-tiba takut. Tiba-tiba rasa kehilangan itu datang lagi. Otakku bilang, kuret berarti rahim dikorek-korek, dibersihkan, untuk mengambil semua kegagalan.

Melihatku nangis, Heru malah ajak aku tertawa. Jelek katanya mukaku, dilihatin orang pula di ruang tunggu RS itu. Heru lalu beranjak mengurus administrasi karena aku harus rawat inap semalam. Aku duduk sambil menahan panas air mata.

Sesudah masuk ruang rawat inap, Heru menelepon bapak mamaku untuk kasih kabar, yang berujung aku nangis lagi karena tiba-tiba ingat dulu mama pernah kuret juga. Aku nggak mau lihat hape, nggak tega lihat mama dan bapak di layar. Akhirnya dengan sungkan Heru meminta izin dan menutup telepon.

Selebihnya aku cuma merasa lemas terus-terusan. Aku cuma ingat kemudian masuk ruang operasi dengan grasa-grusu seperti di ER Grey’s Anatomy. Semua orang tampak hectic banget. Aku dibius dan sudah… tak ingat apa-apa. Bangun-bangun badan lemas banget. Mau melek susah, mau ngomong susah, tapi aku dengar suara suster ngobrol mau pesan makanan lewat gofood. Aku coba memanggil Heru, tapi kok susah sekali. Heru akhirnya melihat sinyal yang kuberi, lalu dia coba ajak aku bercanda karena dikira aku udah sadar penuh, padahal belum. Malam itu berakhir dengan aku ngantuk terus-terusan dan nangis lagi saat lihat selangkangan penuh olesan betadine.

1 Februari 2020

Dilema yang kurasa kadang lucu juga. Aku takut mengingat semua prosedur yang mesti dilewati. Banyak horornya, banyak nangisnya. Tapi sekaligus aku antusias mencoba juga. Semacam memenuhi rasa ingin tahu dan belajar hal baru.

Maka waktu dokter meminta aku tes darah lanjutan sebelum mencoba FET (Frozen Embryo Transfer), aku nurut dan semangat mengatur jadwal. Tes agregasi trombosit, ACA igm, Anti Beta Glikoprotein, Lupus Antikoagulan.
Habis Rp4.085.000 di lab Prodia. Begitu diambil darah ya lemas juga, enam tabung ya kalau nggak salah lihat. Makanya sebelum pulang ke rumah, Heru ajak makan bakmi sebelah Prodia itu, sambil tunggu hujan reda. Detik itu aku bersyukur karena boleh napas dulu, rehat dulu, setidaknya sebulan sebelum mulai siklus baru lagi.

16 Maret 2020

Setelah sudah dua kali mens aku kembali kepikiran, kapan sih waktu yang tepat untuk mulai FET. Akhirnya aku kirim chat wa ke dokter Wisnu. Ia memintaku datang saja ke Morula sekalian periksa.

Berita corona sebetulnya lumayan mengganggu, maka kami sempat tanyakan bagaimana baiknya menurut dokter. Kami diperbolehkan untuk mulai FET. Heru dan aku kepikiran, ya udahlah mumpung kondisi tubuhku sudah oke, dan masih ada frozen embyro bagus, nggak perlulah tunda-tunda.

Maka jadilah kami tanda tangan surat bermaterai sebagai persetujuan rangkaian tindakan FET. Lalu diberi resep femaplex dan dufarol. Habis sekitar satu juta rupiah. Aku diberi tahu untuk periksa USG lagi seminggu kemudian.

23 Maret 2020

Kekhawatiran tentang virus corona yang mewabah di luar sudah mulai mengganggu rencana kami. Meski begitu, aku dan Heru tetap ke Morula. Rupanya benar, kami terlewat dikabari kebijakan Morula. Jadi, sejak pemerintah mengabarkan ada kasus positif covid-19 di Indonesia, Morula mulai membuat kebijakan penundaan semua program IVF, kecuali yang mendesak dan tanggung berjalan. Nah, sayangnya aku dan Heru sudah terlanjur ke RS. Juga sudah keburu tanda tangan surat mulai FET. Jadi gimana?

Begitu sampai di RS Bethsaida, suasana sudah berubah. Masuk pintu RS, setiap pengunjung diukur suhu badannya. Lalu mengisi buku hadir, menulis keterangan siapa yang perlu konsultasi. Hand sanitizer di mana-mana. Sampai di lantai 7 ruang Morula, suasana sepi. Di situlah kami baru tahu bahwa seharusnya kami tidak perlu datang. Program kami mesti ditunda dulu. Sempat sedikit kecewa, kenapa bukan kemarin-kemarin kami dikabari sehingga tidak perlu beli obat dulu. Tapi yaa udah jalannya emang ajaib begini, jadi ya aku nerima aja.

4 Mei 2020

Oh, aku sangat peduli angka. Makanya ulang tahun kali ini aku kembali kepikiran, dobel kepikirannya. Satu, aku sudah 35 tahun. Dua, tahun ini ada corona.

Usia 35 itu penting buatku karena ini angka yang sering jadi standar ukuran dalam program kehamilan. Pernah baca dulu, pada usia 35 kesuburan perempuan mulai menurun. Pada usia 35 perempuan lebih berisiko untuk hamil dan melahirkan. Kemarin aja waktu embyro transfer pertama kali, penentuan jumlah embryo yang bisa ditanam diukur dari usia juga. Kalau usia 35, boleh tanam dua embryo sehingga bisa jadi bayi kembar. Di bawah 35 tahun sebaiknya jangan. Yah, begitulah, jadi kepikiran sendiri. Padahal dalam program IVF aku masih terhitung muda karena banyak pasangan lain yang usianya di atas 35 dan 40-an yang masih terus berjuang.

Usia 35 tahun ini kok ya ndilalah berbarengan ada corona. Virus brengsek ini memaksa aku kerja di rumah aja, nggak bisa ketemu banyak orang seperti biasanya ketika ultah. Padahal ulang tahunku selama ini nggak pernah sepi, selalu dirayakan bersama murid-murid, ya karena kerja di sekolah juga kan. Juga selalu ramai dirayakan keluarga dan teman. Bahkan biasanya ultah sampai seminggu terus-terusan karena ada aja kejutan dan kado yang berdatangan. Tapi tahun ini beda banget. Sepi. Aku kesepian. Yang mengucapkan pun benar-benar teman dekat atau yang kebetulan tau lewat media sosial aja.

Kemudian aku renungkan, apa barangkali memang jadi sebuah keberuntungan ketika aku tidak (belum) memiliki anak di masa pandemi begini. Aku membayangkan betapa sulitnya orang tua mengurus anak di kondisi serba tidak jelas seperti ini. Meskipun aku tidak juga menafikan betapa jadi keberuntungan yang membahagiakan juga mereka yang bisa selamat melahirkan dalam situasi yang serba membingungkan.

Pada akhirnya aku mesti belajar banyak bersyukur terus. Berterima kasih atas segala pemberian yang sudah kuterima. Sehat dan belajar bahagia selalu. Itu dulu.

Puisi 2004-2008



UNTUK KAHARINGAN
 
hijau, aku layu
harap embun dapat kupakai mandi
bukan hanya bagi mata
itu mengambau namanya!
 
biru, aku sendu
harap daksa tenggelam saja
dan berselimut pasir gelapmu
jangan sampai ia galiku!
 
matari cerlang
bunga rekah
nyiur ngipuk
kapanku bersamamu?
 
2004


 8 MARET

Ah, tiba senja...
Lakumu manakah saja?
Kurasa kita tlah setuju
untuk tak hanya cari senjata,
tapi juga tunduknya.
Dan jika capaian itu belum di tangan
ingatkanku tuk beri genggaman.
 
2005


DALAM DUA DUGA
 
terlalu pening ia memilih
racun di gelas biru atau jingga
sementara merah darahnya
sudah tak lagi aliri kepala
pria dungu itu akhirnya mengadu
pada pemilik hitam dunia raya
 
2006



PETANG NATAL
 
membariskan manik jadi tujuh
dikomandoi benang doa
 
menggunting sgala cemas keruh
di bayangan hitam perca
 
mengharap lunas pedih peluh
ditunaikan kilau caya
 
2007


DINGIN SUBUH
 
dia masih diikat kabut
tangannya menggapai tepian ranjang
meregang di kayu coklat terpanggang
 
wajah tuanya melengut
sungai kecil menganak di sudut lembah
sebelum tiba merapat pada yang disembah
 
getar purba kian akut
batu apung kecil digamit manja
merebus hangus si cair saga
 
kabut semakin kalut
mencekik jakun ceking yang turun naik
sesakkan jiwa berbalut harum taik
 
2007



KORENG LORENG
 
Meski daun-daun yang menempel di bajumu
berwarna segar seperti sayur
yang dibeli pembantu sebelah pintu,
pantat papan nama hebatmu
menguapkan daging busuk
yang dibakar seribu candu.
 
Kalau lengan kirimu dihancurkan mesiu,
jangan minta bebat kawan putihku!
 
2007



SONETA DAUN JAMBU
 
asap kelabu berpegangan dalam bola-bola hampa
menggelinding bersama di pipih granit
menciumi ilalang tua yang sembunyi genit
memantul dalam gelombang tanpa busa
 
bisa kepul mengendapi pias tuanya
merangsek genapi isi palung
membalur ungu carik selubung
mengisutkan lembar matari jingga
 
sekompi bayu menyerbu tanpa ragu
godamnya membelah bola jadi debu
terhambur karna pelawak tak bisa lucu
 
basah daun jambu memanggil bayu pulang
hisap duka dan merapat dalam kandang
hapus luka dan melumat sgala berang
 
2007



PADA KAWAN
 
Aku mencintaimu, kawan.
Seperti semut yang menepi jalan
memberi lapang untuk Sulaiman.
 
2007
 
 
DEPAN KAMPUS GANESHA
 
Ternyata menangisimu yang berjalan terburu-buru
melintasi taman burung dengan tapak berbatu
tak lebih lama dari menjilati es krim putih meleleh
dan usapan kawan yang beri sebotol besar teh.
 
Aku segera berlalu.
Tak lagi menoleh.
 
11 November 2007
 
 
 
YANG SLALU GIGIH
 
Aku meragukan niatnya
yang tertelan bersama
kunyah gado-gado depan taman kota.
 
Ia ingin menjadi kepala negara
mengemudikan kapal saat banjir besar tiba
menggumam asa merapal doa.
 
Tapi yagutsnya malah dibawa serta
untuk ditimang saat lelah mendayung raga.
 
2007
 
 
RABU BAU
 
Hari rabuku biasanya bau
Ya, memang tak slalu
Tapi biasanya begitu
 
Muridku semua bersepatu
Bagus-bagus, tampak baru
Jadi kakinya tak berdebu
 
Muridku semua berbaju
Halus licin kain blacu
Rapi jali tanpa ragu
 
Tapi setiap rabu
Kelasku slalu bau
Langu, ya, langu
Menyengat hidung pesekku
Tapi terpaksa juga kuhidu
Yah, mau tak mau
 
Aku benar tak tau
Bukan harum sagu
Bukan lembut abu
 
Ternyata aku tau
Inilah baunya dungu
Penjara otak muridku
 
27 Februari 2008
 
 
 
PESAN
 
anak itu mengirim pesan
tak cukup singkat serangkaian
begini ia katakan:
 
β€œmaaf jika kami mengecewakan
minggu ini terlalu melelahkan
seribu tugas menumpuk nyatu
minta hati satu per satu
ingin rasanya jadi amuba
tapi padaya kami tak bisa
jadi lelagi mohon maafkan
smoga ibu benarlah paham”
 
apa aku harus berdiam
tugas dibuang ke jahanam?
begini ku katakan:
 
β€œrelakan saja dideru ilmu
agar tak dungu hari tuamu”
 
27 Februari 2008
 
 
 


My IVF Diary (part 7) – Two Weeks Wait and The Result

9 Desember 2019

Senin ini aku masuk sekolah dan berharap akan santai karena tinggal duduk jaga ujian. Usai jaga, hari sudah siang. Aku makan salmon yang Heru buatkan untuk bekal, lalu jalan ke musola sekolah. Kembali ke ruang guru di lantai 4, badanku keringat dingin. Pinggal pegal, sedikit pusing. Oh, tidak, seperti sakit PMS.

Lewat whatsapp aku laporkan kondisiku ke dr Wisnu. Beliau langsung instruksikan aku untuk bedrest tiga hari. Tenangkan badan, tenangkan pikiran.

12 Desember 2019

Siang tadi aku pipis dan menemukan flek coklat di celana. Gelap. Lemas. Kupanggil Heru dan kubilang, “Kayaknya aku mens.” Langsung aku menangis. Meraung.

13 Desember 2019

Jam setengah 1 malam, terbangun lalu tiba-tiba muntah hebat. Keringat dingin, pusing, lelah. Kembali tidur. Jam setengah 2, terbangun lagi dan muntah lagi. Sudah tak ada lagi sisa makanan, hanya cairan. Coba istirahat lagi. Jam setengah 3 lewat, lagi-lagi terbangun dan muntah. Yang keluar adalah cairan kuning. Lelah. Pusing. Tidur lagi. Jam 4 subuh, sekali lagi terbangun untuk muntah. Si cairan kuning itu keluar sampai habis.

Dokter Wisnu kemarin sempat bilang “masih ada harapan” saat kukabari tentang flek coklat kemarin. Bagaimana pun penentuannya adalah hari ini, dengan tes darah Beta HCG.

Jam 9 pagi diambil darah satu tabung. Lalu sempat ketemu dokter Wisnu juga dan melaporkan kondisiku yang pusing, mual, dan muntah-muntah semalam. Dia kemudian iseng mengajak cek USG transvaginal yang kemudian ternyata benar, memang belum terlihat apa-apa. “Tunggu hasil cek darah, ya,” katanya.

Jujur saja, aku dan Heru sempat ge’er. Mengira segala mual ini adalah gejala positif. Bahwa kemungkinannya cukup oke dengan melihat semangat dokter dan suster yang walaupun netral, tapi cukup membuat kami senang.

Tapi ternyata… sore hari hasil lab itu datang dan menyatakan… negatif.

Kali ini aku tidak meraung. Aku cuma merasa kosong.